Kerokan

Kerokan, tampaknya, sudah menjadi pengobatan turun-temurun untuk mengatasi masuk angin. Setelah kerokan, tubuh merasa lebih enak dan sehat. Itu yang membuat masyarakat mempercayai terapi alternatif tersebut untuk menghilangkan masuk angin.

Menurut Dr. dr. Koosnadi Saputra SpRad, sebenarnya tidak ada istilah masuk angin di dunia kedokteran. Yang ada adalah common cold. Pada kondisi itu, terjadi penurunan temperatur suhu belakang tubuh (sekitar punggung) secara mendadak.Memang, ada perbedaan suhu antara bagian depan dan belakang tubuh. Suhu tubuh bagian belakang lebih tinggi 1-1,5 derajat celcius dibanding bagian depan.

“Penurunan suhu tubuh membuat pembuluh darah menyempit.Pembuluh darah yang menyempit akan mempengaruhi sistem saraf tubuh,” ungkap kepala Laboratorium Peneliti Akupunktur Pusat Penelitian Pengembangan (Puslitbang) Sistem dan Kebijakan Kesehatan itu.

Lama-kelamaan tubuh kedinginan. Koosnadi menjelaskan, ada tiga organ tubuh yang terpengaruh bila seseorang kedinginan. Pertama, usus melemah. Hal itu membuat lambung jadi kembung. Selanjutnya, saluran pernapasan mengeluarkan ekskresi berlebihan. Akibatnya, pilek dan batuk. “Penurunan suhu tubuh membuat jantung berdetak lebih cepat,” ujarnya.

Rasa pegal di seluruh tubuh juga kerap dialami penderita masuk angin. Menurut dr Heru Wiyono spPD,rasa pegal tersebut muncul akibat timbunan asam laktat di otot tangan dan kaki. Seharusnya, asam laktat masuk ke pembuluh darah. Lalu, mengalami proses metabolisme di hati dan ginjal.

Untuk mengurangi rasa pegal, asam laktat yang tertimbun di otot tangan dan kaki tersebut harus bisa diuraikan. Di sinilah manfaat kerokan. Ketika kerokan, terjadi proses inflamasi atau radang. Akibatnya, pembuluh darah melebar. Kemudian, banyak dialiri oksigen dan nutrisi. “Ketika pembuluh darah melebar, sisa asam laktat yang tertimbun di otot ikut tergerus. Akhirnya, bahan tersebut bisa dimetabolisme dalam hati dan ginjal,” jelas spesialis penyakit dalam dari RS Spesialis Husada Utama Surabaya itu.

Penggunaan obat gosok atau koyok yang mengandung metil salisilat serta berperan memperlebar pembuluh darah. Tak hanya teraliri oksigen dan nutrisi, pelebaran pembuluh darah berdampak pelepasan panas tubuh melalui kulit. Dengan begitu, tubuh yang semula kedinginan sedikit demi sedikit normal kembali. Itu berarti, kerokan sama dengan kompres hangat dan terapi menempelkan abu panas. “Kerokan menaikkan kadar endorfin tubuh. Sehingga, setelah kerokan, tubuh terasa lebih segar dan enak,” ungkapnya. Adanya beta endorfin itu pula yang membuat seseorang ketagihan kerokan.

Pantang Mandi Air Dingin

Ada beberapa pantangan dalam kerokan. Jika diabaikan, mungkin manfaat kerokan kurang optimal. Menurut dr Koosnadi, kerokan sebaiknya dilakukan hanya di bagian belakang tubuh. Tekniknya, dari atas ke bawah sejajar tulang belakang, atau mendatar. Sebaiknya, arah kerokan disesuaikan meridian tubuh. Dengan begitu saraf motorik bisa terangsang. “Jika tak paham mengenai titik akupuntur dan meridian tubuh, tak perlu menganut teknik tersebut,” tegasnya.

Alatnya bisa berupa uang logam. Hindari penggunaan koin berbahan aluminium. Sebab, sisi koin itu sangat tajam. “Bahan tersebut riskan mengiritasi kulit,” papar dokter berusia 57 tahun itu.

Penggunaan obat gosok, koyo, dan minyak berfungsi menghangatkan tubuh dan melicinkan proses kerokan agar kulit tak lecet.”Yang dikerok juga terasa nyaman dan tak terlalu kesakitan,” ujar Koosnadi.

Setelah kerokan, usapkan lagi minyak gosok ke punggung. Setelah itu, gunakan handuk yang berfungsi membersihkan sekaligus memijat punggung. “Kenakan baju yang hangat dan nyaman. Setelah itu, usahakan tidur yang nyenyak,” paparnya.

Sebaiknya kerokan tidak terlalu sering dilakukan, apalagi tiap hari. Sebab, hal tersebut beresiko tidak baik terhadap kulit. Bila kerokan dilakukan terlalu sering, kulit tidak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Mungkin kulit jadi luka. “Di sana (luka) gampang terjadi infeksi. Kulit seperti melepuh,” kata dr Arijanto Jonosewojo SpPD, spesialis penyakit dalam RSU dr Soetomo Surabaya.

Seusai kerokan, seseorang disarankan tak mandi air dingin. Tindakan tersebut membuat pembuluh darah kulit yang melebar setelah kerokan menyempit kembali. Selain mengurangi manfaat kerokan, bisa muncul nyeri.

Kontraindikasi

Gangguan kulit di punggung membuat pengidapnya dilarang kerokan. Apa saja jenisnya? Salah satu gangguan kulit yang kontraindikasi (dilarang) kerokan adalah alergi obat atau minyak gosok tertentu. Terutama, minyak yang mengandung metil salisilat. “Bila kulit alergi, bukannya sembuh. Penyakit yang harus disembuhkan tambah satu, yakni mengatasi reaksi alergi,” kata dr Heru Wiyono SpPD.

Kontraindikasi lain, kulit mengalami iritasi atau menderita penyakit kulit. Misalnya, eksim, luka bakar, jerawat, infeksi bakteri, hingga jamur. Kerokan di daerah tersebut justru memperparah radang. “Sebaiknya, penyakit kulit disemmbuhkan dulu. Setelah benar-benar sembuh, baru boleh kerokan.” lanjutnya/

Lalu bagaimana dengan penderita diabetes melitus? Haru mengatakan, tak masalah diabetesi (sebutan penderita diabetes melitus) kerokan. Asal, di bagian tubuh yang dikerok tak ada luka. Bila terdapat luka, kerokan justru memperparah peradangan. Padahal, kalangan diabetesi sangat sulit menyembuhkan luka. “Gula darah harus stabil sembari perawatan luka hingga benar-benar sembuh,” katanya.

JawaPos edisi 24 Feb’09

~ oleh sakitsebabdanobatnya pada 24 Mei 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: